Blogger templates

Tampilkan postingan dengan label Catatan Ringan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan Ringan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 22 Oktober 2024

Kurikulum Merdeka bermasalah (?)


Belakangan ini banyak narasi di media sosial yang mengkritisi kurikulum merdeka, bahkan sebagian narasi sampai menyebutkan bahwa proyek kurikulum merdeka merupakan proyek pembodohan generasi muda di Indonesia. Terlepas dari adanya plus – minus dalam kurikulum merdeka, mari kita coba melihat dengan perspektif yang lebih luas dari sekedar melihat sebuah “kurikulum” saja.

[1] Perkembangan teknologi dan asimilasi budaya

Perkembangan teknologi yang sangat pesat belakangan ini memberikan impact yang sangat besar terhadap kepribadian generasi muda. Bahkan -mungkin- inilah penyebab utama “pembodohan” yang terjadi ditengah anak-anak usia sekolah.

Teknologi ditangan anak-anak itu laksana lentera ditangan bayi, tidak menerangi justru membakar dan membahayakan. Kepribadian banyak anak (sering disebut sebagai gen Z dan gen Alpha), terbentuk akibat seringnya interaksi dengan game online dan media sosial. Gaya komunikasi yang berkembang pada Gen Z dan Gen Alpha sudah seperti komunikasi M2M (mesin ke mesin), tidak lagi mencerminkan komunikasi antarpribadi. Anak-anak bias dalam membedakan dengan siapa dia berinteraksi dan berkomunikasi, sehingga oleh banyak orang dewasa mereka dianggap tidak memiliki sopan santun dan tata krama.

Rabu, 13 Oktober 2021

Berinvestasi Saham Di Bursa Efek Indonesia

Oleh: Aminullah Yasin, M.Pd., AWP.


Seorang muslim dianjurkan untuk memiliki kemandirian ekonomi bagi keluarganya agar terbebas dari sifat meminta-minta, hal ini sesuai dengan anjuran dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam :

إِنَّكَ أَنْ تَذَرَ وَرَثَتَكَ أَغْنِيَاءَ خَيْرٌ مِنْ أَنْ تَذَرَهُمْ عَالَةً يَتَكَفَّفُونَ النَّاسَ

“Sesungguhnya jika kamu meninggalkan ahli warismu dalam keadaan kaya, itu lebih baik daripada kamu meninggalkan mereka dalam keadaan yang serba kekurangan dan meminta minta kepada orang lain” Muttafaqun ‘alaihi.

Tentu saja kita tidak boleh menjadikan dunia sebagai tujuan utama, namun tetap mendudukkan dunia sebagai sarana (penunjang) bagi kehidupan akhirat kita. Menjadi kaya agar terhindar dari sifat meminta-minta merupakan salah satu tujuan mulia dalam iktisab (mencari harta), terlebih jika hal ini diniatkan agar kita bisa menjadi seorang dermawan yang membantu kebutuhan banyak orang. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam :

مثلُ هذه الأُمَّةِ كمثلِ أربعةِ نفرٍ رجلٌ آتاهُ اللهُ مالًا وعلمًا فهو يعملُ بعلمِه في مالِه يُنفقُه في حقِّهِ ورجلٌ آتاه اللهُ علمًا ولم يُؤْتِه مالًا فهو يقولُ لو كان لي مثلَ هذا عملتُ فيه مثلَ الذي يعملُ قال رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليْهِ وسلَّمَ فهما في الأجرِ سواءٌ ورجلٌ آتاه اللهُ مالًا ولم يُؤْتِه علمًا فهو يخبطُ في مالِه يُنفقُه في غيرِ حقِّهِ ورجلٌ لم يُؤْتِه اللهُ علمًا ولا مالًا فهو يقولُ لو كان لي مثلَ هذا عملتُ فيه مثلَ الذي يعملُ قال رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليْهِ وسلَّمَ فهما في الوِزْرِ سواءٌ

“Permisalan umat ini seperti empat orang lelaki:

(Pertama) Seorang lelaki yang Allah berikan harta dan ilmu, dia mengamalkan ilmunya untuk mengelola hartanya, dia mengeluarkan hartanya sesuai dengan hak-haknya.

(Kedua) Seorang lelaki yang Allah berikan ilmu, namun tidak Allah beri harta, dia berkata “seandainya Aku memiliki harta seperti dia (orang pertama), niscaya aku akan melakukan seperti yang dia lakukan”

Nabi bersabda, “pahala mereka berdua sama.”

Senin, 26 Juli 2021

Penggerak perekonomian itu bernama : Hutang

Oleh : Aminullah Yasin

(Mahasiswa Pascasarjana Ekonomi Syariah Institut Tazkia, Bogor) 


Jika kita bicara tentang hutang, mungkin yang terpikir dalam benak sebagian orang adalah menghindarinya (baik berhutang maupun memberi hutang). Berpikir bahwa keselamatan diri terletak dengan menghindari hutang memang tidak salah, namun  dalam skala makro hutang justru menjadi salah satu sumber kebaikan. Kebaikan yang sangat banyak. 

Tak salah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam memberikan motivasi tentang hutang. Mari kita renungkan beberapa hadits berikut:

ما من مسلم يقرض مسلما قرضا مرتين إلا كان كصدقتها مرة

"Tidaklah seorang muslim memberi hutang muslim lainnya dua kali, kecuali dia mendapatkan pahala seperti bersedekah satu kali" HR. Ibnu Majah, dihasankan oleh Al-Albani. 

إن السلف يجري مجرى شطر الصدقة. 

"Hutang itu memiliki pahala setengah sedekah" HR. Ahmad, dishahihkan oleh Al-Albani. 

Dua hadits diatas secara jelas menyebutkan bahwa pahala menghutangi adalah setengah pahala sedekah. 

Dalam hadits yg lain disebutkan :

Rabu, 19 Mei 2021

Organisasi di Era Digital


Oleh: Aminullah Yasin

Era digital adalah era keterbukaan, sehingga sangat sulit 'merahasiakan' sebuah amal jama'i. Ketika sebuah kegiatan dilakukan oleh lebih dari 2 orang, jangan pernah beranggapan hanya para peserta yg hadir disanalah yg mengetahui kegiatan tsb. Karena bahkan yg berada diujung dunia sana, sangat mungkin juga mengetahui dengan detail. 

Ada baiknya dalam organisasi diulang-ulang pesan : "pentingnya menjaga kerahasiaan organisasi serta tidak latah menyebarkan informasi internal".

Bayangkan, jika pengurus pesantren sedang memberi sanki bagi santri yg melanggar, lalu oleh oknum guru proses sanksi tsb difoto dan dishare ke medsos. Bisa jadi bukan kebaikan yg didapat, malah pesantren tsb yg dibuli oleh netizen dan sangat mungkin berbuntut panjang dg pihak berwajib! 

Kamis, 22 Oktober 2020

Positivisme dan Ekonomi Islam

 

Positivisme dan Ekonomi Islam[1]

Oleh : Aminullah Yasin[2]

 

Pada abad 19, Auguste Comte mengenalkan satu aliran filfasat baru yang disebut Positivism, yang sebenarnya merupakan pengembangan dan bentuk ekstrim dari teori empirisme (O.Hasbiansyah, 2000). Aliran positivisme menekankan bahwa suatu teori/ pandangan dianggap benar jika dapat dibuktikan dengan fakta-fakta melalui observasi (verifikasi), sehingga teori dan ilmu pengetahuan tak lain adalah untuk mengungkapkan kebenaran tentang realitas (Sugiyono, 2001).

Disebut positivisme karena aliran ini menganggap bahwa hal yang positif merupakan apa yang berdasarkan fakta obyektif (Fata & Noorhayati, 2016), positivisme menekankan aspek faktual dalam pengetahuan ilmiah dan menafikan filsafat atau pengetahuan yang tidak bisa diverifikasi secara faktual.

Aliran positivisme dalam penelitian berkembang menjadi penelitian dengan paradigma kuantitatif. Paradigma positivisme jika diimplementasikan dalam penelitian ilmiah adalah untuk menguji kebenaran atau menerapkan sesuatu teori. Metode yang digunakan adalah empiris-analitis; menggunakan logika deduksi, teknik-teknik penelitian survai, statistika (termasuk yang non parametrik atau yang diskriptif), generaslisasi, dan berbagai teknis studi kuantitatif serta didesain dengan model-model kalkulatif (Sjafruddin, 2017).

Aliran positivisme dengan metode kalkulatifnya yang mengobservasi sebuah fenomena dan mendeskripsikannya dengan H0 dan H1, dinilai oleh banyak ahli sosial tidak tepat jika masuk dalam rumpun ilmu-ilmu sosial, karena bagaimanapun dalam penelitian ilmu sosial memiliki banyak variabel yang saling terkait dan sering tidak terjangkau oleh penelitian positivisme.

Namun dalam perkembangan pemikiran di dunia barat, banyak ilmuwan yang ingin keluar dari dogma kebenaran berdasarkan religiusitas (agama), sehingga teori positivisme disambut positif dan tersebar secara massif kedalam perbagai cabang dan rumpun ilmu pengetahuan, termasuk rumpun ekonomi (Fata & Noorhayati, 2016).

Rabu, 16 September 2020

Menggagas Pendidikan Islam yang Murah


Oleh : Aminullah Yasin.

Education for All (EFA), merupakan sebuah gerakan yang diinisiasi oleh UNESCO sejak tahun 2000. Tujuan dari gerakan ini adalah pemerataan pendidikan bagi setiap warga dunia, tanpa memandang status mereka. Sudah 20 tahun gerakan tersebut bergulir, namun dilapangan kita masih mendapatkan gap yang cukup besar antar lapisan masyarakat, termasuk (atau terutama) masyarakat muslim di Indonesia.

Lahirnya sekolah-sekolah Islam baik yang berbasis asrama (pesantren) maupun non-asrama di negeri kita ini merupakan anugrah yang harus disyukuri bersama. Hampir tiap kota (terutama di Pulau Jawa), berdiri sekolah Islam berkualitas yang menawarkan berbagai macam keunggulan baik dari sisi proses pendidikannya, maupun output lulusannya.

Semakin tinggi kualitas sebuah sekolah, biasanya ditandai dengan semakin tinggi pula biaya pendidikan di sekolah tersebut, karena memang faktanya biaya operasional sekolah tidaklah murah. Fakta ini menyebabkan (mau tidak mau) terjadinya dikotomi antara si kaya dan si miskin, kesempatan mendapatkan pendidikan yang berkualitas masih bergantung pada faktor strata ekonomi orang tua atau keberuntungan.

Sejauh ini memang belum ada data penelitian berapa range biaya pendidikan di sekolah-sekolah Islam tersebut, namun isu tentang ini sudah cukup santer dimasyarakat. Bahkan ada yang berseloroh, "waktu membangun minta-minta sumbangan, setelah jadi pasang biaya mahal!".

Bagaimana solusinya?

Minggu, 09 Agustus 2020

Menentukan Target Pendidikan dan Rumus PDCA Cycle

 

Oleh: Aminullah Yasin

Ada orang berpikir, kita harus tentukan target yg tinggi. Karena dengan target tinggi hasilnya akan lebih baik daripada target rendah.

Contoh: sekolah menentukan target hafalan santri harus 10 juz dalam 3 tahun. Ternyata tercapainya hanya 3 - 5 juz, yg mencapai 10 juz hanya "segelintir" siswa saja. Ketika ditanya, "kok targetnya tinggi banget?" Dijawab, "dg target segini kita bisa mencapai 3-5 juz, kalau targetnya Kita kurangin bisa² realitanya lebih rendah lagi."

Cara berfikir spt ini masih cukup mudah kita temui dibeberapa sekolah Islam.

Bener gak sih?

Sebenarnya berpikir spt diatas itu menunjukkan kelemahan dalam manajemen. Karena dalam mengelola sebuah target pembelajaran, setidaknya rumusan Umum manajemen itu harus kita terapkan. 

Rumusan umum membuat visi sekolah

Oleh: Aminullah Yasin

Merumuskan visi sekolah/ pesantren itu gampang-gampang sulit. Gampang karena perumusan visi itu pencerminan dari harapan/ keinginan, ketika seseorang mendirikan pesantren/ sekolah pasti punya harapan dong untuk apa pesantren tsb berdiri... Nah, visi itu adalah membahasatuliskan harapan yg tersimpan di kepala ke dalam kertas. 

Tapi ada sulitnya juga. Karena ternyata memendam perasaan itu lebih mudah daripada mengungkapkannya... 😜😝

Skip... Skip... 

Sekarang, jika anda ingin membuat rumusan visi pesantren rumusan umumnya adalah SMART. Apa itu SMART?

Taubat itu bukan akhir perjalanan keburukan, namun awal dari perjuangan kebaikan



Oleh: Aminullah Yasin 

Ketika seseorang bertaubat maka dia harus siap menerima segala konsekuensinya. 

Di zaman Nabi ada seorang wanita bertaubat dari Zina, dia mengakui perbuatannya. Apakah dg pengakuan dan istighfarnya tsb, dia langsung mendapatkan "kesenangan"? Nyatanya dia harus menjalani proses hukuman rajam yg mengakhiri nyawanya.

Seorang yg mencuri-pun ketika bertaubat, dia harus menjalani proses hukuman potong tangan. Demikian pula pada dosa² lain.

Ketika kita memutuskan untuk bertaubat dari suatu dosa, maka siapkan hati kita... Karena setelah itu, seringkali "musibah" dan "kesulitan" menimpa kita. Kita akan diuji, apakah taubat kita jujur ataukah hanya manis dibibir saja. Selain itu, musibah dan kesulitan tsb bisa jadi sebagai penebus atas dosa² kita sebelumnya. Allah sayang kita, oleh sebab itu Allah beri kita ujian.

Nabi SAW pernah bersabda: 

إن الله إذا أحب عبدًا ابتلاه 

"Jika Allah mencintai seorang hamba, Dia akan memberinya cobaan/ ujian"

Dalam hadits lain, beliau bersabda:

Begini Seharusnya Kita Mendidik Generasi Penghafal Al-Qur'an


Oleh: Aminullah Yasin

Program Tahfizh Al-Qur'an beberapa tahun terakhir ini sedang menjadi hit. Banyak pesantren² baru bermunculan yg menyematkan kata² "Pesantren Tahfizhul Qur'an" atau "Rumah Tahfizh" dan yg semisalnya. 

Tak ketinggalan, pesantren² yg telah lama eksis pun, memunculkan program Tahfizhul Qur'an sebagai salah satu program unggulan dengan berbagai macam model dan sistematika yg disesuaikan dengan iklim & budaya organisasi yg berlaku di masing² pesantren tsb. 

Tentu saja hal ini merupakan satu kondisi yg harus kita syukuri bersama, karena kaum muslimin di Indonesia turut serta dalam bagian penjagaan Al-Qur'an yg Allah ta'ala sebutkan dalam surat Al-Hijr, ayat ke-9:

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ (9)

"Sesungguhnya Kami-lah yang telah menurunkan Adz-Dzikr (Al-Qur'an) dan Kami pula-lah yang akan melakukan penjagaan terhadapnya."

Berkata Syekh As-Sa'di tentang ayat tersebut, "Penjagaan tersebut adalah ketika Al-Qur'an diturunkan dan setelah Al-Qur'an diturunkan. Ketika diturunkan, yaitu Allah menjaga Al-Qur'an dari usaha pencurian para Syaithon. Adapun penjagaan setelah diturunkannya adalah dengan menjadikan Al-Qur'an ini berada didalam dada Nabi Muhammad lalu di dada² ummatnya (dengan menghafalnya)... Dan diantara bentuk penjagaan Allah terhadap Al-Qur'an adalah Allah akan menjaga ahli Al-Qur'an* dari para musuh² mereka..." (Tafsir As-Sa'di, secara ringkas) 
*Ahli Al-Qur'an adalah orang² yg menghafal, mempelajari, mengamalkan dan mengajarkannya -pent. 

Tiap tahun di negeri kita bermunculan banyak hafizh baru... Mungkin pertambahan jumlah hafizh tiap tahun di negeri kita bisa ratusan atau bahkan ribuan... Satu hal yang sangat menggembirakan. 

Disisi yang lain, ada fenomena yang harus menjadi perhatian bersama agar semangat menjadikan Al-Qur'an sebagai program unggulan pendidikan di Pesantren bisa benar² menjadi hal yg bermanfaat besar. Fenomena tersebut sudah diperingatkan jauh-jauh hari oleh Nabi Muhammad _shallallahu 'alaihi wa sallam_ :

أكثر منافقي أمتي قراؤها

"Mayoritas munafiq ummatku adalah para penghafal Al-Qur'an nya" HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Al-Albani. 

Fenomena "hafizh munafiq" harus menjadi perhatian bersama, karena ini bukan perkara ringan yg bisa diabaikan begitu saja. Untuk membaca fenomena ini, mari kita renungkan melalui beberapa fakta disekitar kita:

Selasa, 16 Juni 2020

6 Alasan Kenapa Pesantren "Harus" Masuk Tatap Muka Ditengah Pandemi Covid-19 (sebuah sudut pandang)

By. Aminullah Yasin. 

Keputusan bersama antara Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementrian Agama, Kementrian Dalam Negeri, BNPB dan Komisi X DPR RI pada senin yang lalu (15/6/2020) terkait pembelajaran tahun pelajaran 2020/2021 tidak menyurutkan niatan dan semangat banyak pesantren untuk memulai kegiatan tatap muka pada awal juli nanti -bahkan sebagian pesantren ada yg sudah memutuskan masuk dibulan juni ini-. 

Jika kita perhatikan keputusan bersama 3 kementrian, BNPB dan Komisi X DPR RI, maka titik beratnya adalah pada keselamatan jiwa peserta didik. Sekolah dianggap sebagai tempat kerumunan masa, selain itu interaksi antara peserta didik dengan peserta didik, peserta didik dengan guru, dan guru dengan guru tidak seperti interaksi antara pedagang dengan pembeli. Interaksi antar warga sekolah lebih bersifat interpersonal, ada persahabatan, kasih sayang, dukungan, kejujuran, kepercayaan, dst. Maka resiko penyebarannya cukup tinggi. 

Senin, 13 April 2020

MUHAMMADIYAH – NU AKAN KOMPAK DALAM PENENTUAN AWAL RAMADHAN DAN IDUL FITHRI 1441 H


Penentuan awal Ramadhan dan Idul Fithri di negeri kita selalu menyisakan perdebatan panjang, meski pemerintah melalui Kementrian Agama tiap tahun melakukan rapat (sidang itsbat) diawali dengan pemantauan Hilal dari berbagai titik yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia, tetap saja setiap ormas Islam menerbitkan sikap dan himbauannya untuk anggotanya masing-masing.

Secara perundang-undangan hal ini sah-sah saja karena Pemerintah melindungi hak warga negara untuk beragama sesuai dengan keyakinanannya, meski secara pandangan syariat hal ini patut untuk direnungkan secara mendalam. Mengapa?

Karena puasa Ramadhan dan pelaksanaan sholat Idul Fithri bukan hanya sekedar ibadah biasa, namun mengabungkan antara syari’at dengan syi’ar. Oleh sebab itu, Nabi Muhammad shallalallahu alaihi wa sallam bersabda:

الصوم يوم تصومون والفطر يوم تفطرون والأضحى يوم تضحون

“Puasa adalah hari dimana kalian (kaum muslimin) berpuasa, Idul Fithri adalah hari dimana kalian berbuka, dan Idul Adha adalah hari dimana kalian berkurban” HR. At-Tirmidzi, dishohihkan oleh Al-Albani.

Sebab Kesesatan


Sebab penyimpangan manusia dari kemuliaan adalah karena tidak mengetahui nilai harga dirinya.

Allah menghargai manusia dengan nilai yg sangat tinggi. Allah berfirman:

هو الذي خلق لكم ما في الأرض جميعا

"Dia-lah yang menciptakan untuk kalian segala yg ada di bumi... " QS. Al-Baqoroh: 29.

Kemudian pada ayat selanjutnya Allah berfirman:

وإذ قال ربك للملائكة إني جاعل في الأرض خليفة

"Dan ingatlah tatkala Tuhanmu berkata kepada malaikat, "sesungguhnya Aku menjadikan pemimpin diatas bumi ini".... " QS. Al-Baqoroh: 30

Minggu, 05 April 2020

Hormati ibumu dengan selayaknya!



Saat ini -mungkin- banyak muslimah di negeri kita jika ditanya, "apa yg terbesit dibenak anda ketika disebut nama istri Nabi, 'Aisyah radhiyallahu 'anha?", mereka akan menjawab, "humairo' atau wanita cantik berkulit putih kemerah-merahan."

Mari kita simak penjelasan para ulama berikut:

Berkata Al-Allamah Ibnul Qoyyim rahimahullah:

وكل حديث فيه " يا حميراء " أو ذكر الحميراء فهو كذب مختلق

"Semua hadits yg menyebutkan kata "wahai Humairo'" atau "humairo", maka itu adalah hadits palsu!" Al-Manarul Munif, hal. 50.


Kamis, 26 Maret 2020

Renungan dan Harapan Ditengah Wabah Covid-19



Bismillah.

Ikhwah...

Kita mengerti dan sangat paham bahwa kaum muslimin sangaaaaat berat meninggalkan masjid. Apalagi sampai harus meninggalkan sholat jum'at.

Semoga ini adalah salah satu bukti keimanan dan bagian dari orang yg hatinya tertaut di masjid.

ورجل قلبه معلق بالمساجد

"...Dan seseorang yg hatinya senantiasa tertaut dengan masjid..."


Sabtu, 21 Maret 2020

6 Amalan Yang Dianjurkan Saat Wabah Corona Melanda



Virus Corona pada hari-hari ini menyita perhatian dan menebarkan kekhawatiran masyarakat dunia. Sejak awal kemunculannya pada pertengahan Januari 2020 yg lalu, kini virus tersebut telah menyebar ke berbagai negara, termasuk Indonesia.

Sebagai seorang Muslim, tentu kita tidak boleh takut kepada Corona sehingga lupa dengan Sang Pencipta Corona , Allah ta'ala. Dia yang menciptakan dan menurunkan virus ini kepada umat manusia -tentu dibalik itu ada hikmahnya-, Dia pulalah yang mampu mengentaskannya. Ingat ucapan Nabi Ibrahim yang Allah ta'ala abadikan dalam Al-Qur'an:

الذي خلقني وهو يهدين * والذي هو يطعمني ويسقين * وإذا مرضت فهو يشفين * والذي يميتني ثم يحيين * والذي أطمع أن يغفر لي خطيئتي يوم الدين *

"(Allah) yang menciptakanku dan Dia memberiku petunjuk.
Yang memberiku makan dan minum.
Apabila aku sakit, Dialah yang memberiku kesembuhan.
Yang mematikanku dan menghidupkanku kembali.
Yang sangat aku harapkan agar mengampuni dosa-dosa ku pada hari pembalasan."
(QS. As-Syu'aro : 78 - 82)

Kamis, 06 Juni 2019

Puasa 6 Hari di Bulan Syawal

Pertanyaan : Bolehkah memulai puasa sunnah syawal pada tgl 2 syawal?

Jawab :

Syekh Bin Baz :

وهذه الأيام ليست معينة من الشهر بل يختارها المؤمن من جميع الشهر ، فإذا شاء صامها في أوله ، أو في أثنائه، أو في آخره ، وإن شاء فرقها ، وإن شاء تابعها ، فالأمر واسع بحمد الله ، وإن بادر إليها وتابعها في أول الشهر كان ذلك أفضل ؛ لأن ذلك من باب المسارعة إلى الخير .

"Dan 6 Hari pada sunnah syawal tidaklah ditentukan. Setiap mukmin dapat memilih Hari mana saja dalam bulan tsb, tidak apa-apa jika dia ingin melaksanakan diawal bulan, atau pertengahan, atau akhir. Tidak masalah pula jika ingin melaksanakannya secara terpisah-pisah, atau berkesinambungan. Ini adalah masalah yg terdapat keleluasaan didalamnya, alhamdulillah.
Jika dia ingin langsung mengerjakan setelah Hari id (tgl 2 syawal) secara berkesinambungan maka hal tsb lebih baik. Karena terdapat nilai bersegera dalam kebajikan.
Sumber : https://www.saaid.net/mktarat/12/10-2.htm

Manhaj Salaf adalah Manhaj yang Adil

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah :
ومن سلك طريق الاعتدال عظم من يستحق التعظيم وأحبه ووالاه وأعطى الحق حقه فيعظم الحق ويرحم الخلق ويعلم أن الرجل الواحد تكون له حسنان وسيئات فيحمد ويذم ويثاب ويعاقب ويحب من وجه ويبغض من وجه هذا هو مذهب أهل السنة والجماعة خلافا للخوارج والمعتزلة ومن وافقهم
"Barangsiapa meniti jalan keadilan, maka akan menjadi penting baginya siapapun orang yang berhak untuk diagungkan, dicintai dan diberikan loyalitas kepadanya.
Dia akan memberikan hak kepada setiap orang yg berhak memilikinya. Dia agungkan kebenaran dan dia sayangi para makhluk...
Dia juga menyadari bahwa setiap orang memiliki kebaikan dan keburukan. Setiap orang bisa dipuji dan dicela, diberi pahala dan dosa, setiap orang juga mungkin untuk dicintai dari satu sisi, namun dibenci dari sisi lainnya.
Inilah Madzhab Ahlus Sunnah Wal Jama'ah, berbeda dengan Khawarij, Mu'tazilah dan yg semisal mereka." -selesai-.

Kamis, 09 Mei 2019

“Sekolah is life style”


(renungan untuk para pengelola sekolah)

Oleh : Aminullah Yasin (guru dan pengelola sekolah)

Keberadaan sekolah dari masa ke masa terus mengalami perubahan. Dahulu sekolah dimunculkan sebagai wadah pendidikan bagi anak-anak untuk mempersiapkan mereka menghadapi kehidupan di tengah masyarakat saat mereka telah dewasa, kemudian sekolah secara perlahan-lahan memberikan dampak pada peserta didiknya sebagai orang terpandang, semakin tinggi jenjang sekolah yang dimasuki seorang anak, semakin tinggi pula strata sosialnya ditengah masyarakat. Ini fakta. Disebagian tempat, orang dengan status “SD” dipandang rendah oleh orang dengan status “S1”. Demikian pula sebaliknya, masih tersisa orang-orang “S1” atau bahkan diatasnya merasa jumawa dengan gelar yang dimilikinya, walaupun kondisi ekonominya pas-pasan.

Namun sekarang, kondisi agak sedikit berbeda.

Selasa, 26 Maret 2019

Iman dan Ilmu : Sebuah Manifestasi Jiwa Menuju Tranformasi Pribadi Paripurna


Oleh : Aminullah Yasin

“Iman tanpa ilmu bagaikan lentera ditangan bayi, namun ilmu tanpa iman bagaikan lentera ditangan pencuri.” Buya HAMKA.

Banyak orang berbangga ketika telah sampai pada tingkatan ilmu tertentu. Ilmu yang diyakini sebagai pengetahuan yang telah terverifikasi oleh serangkaian uji ilmiah, nyatanya justru telah membawa banyak manusia berada pada titik terendahnya sebagai makhluk terpuji.

Tidak sulit kita mencari contoh nyata disekitar kita orang-orang yang “berilmu”, namun justru melakukan tindakan tak beradab dengan ilmunya. Ada banyak, sangat banyak. Namun hal ini masih tidak membuat sadar banyak orang betapa rapuhnya “ilmu” untuk menentukan kesuksesan seseorang. Orang-orang tetap mengejar prestasi “ilmiah”, berbangga dengannya, berkompetisi dengan kawan-kawannya, bahkan mereka siap “berkelahi” hanya untuk mendapatkan predikat “orang berilmu”, hasilnya? Kesombongan!