Blogger templates

Tampilkan postingan dengan label Belajar Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Belajar Islam. Tampilkan semua postingan

Minggu, 06 September 2020

Mengenal Buku Hilyah Tholibul Ilmi Karya Syekh Bakr Abu Zayd Rahimahullah*

 


Alhamdulillah, sholawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kehadirat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, beserta keluarga, sahabat, dan ummatnya hingga akhir zaman.

Buku “Hilyah Tholibul Ilmi” merupakan buku yang cukup masyhur dikalangan para penuntut ilmu, buku ini merupakan panduan penting bagi orang-orang yang memutuskan untuk serius menuntut ilmu syar’i.

Di Program S1 jurusan Islamic Studies, International Open University (IOU), buku ini menjadi buku wajib dalam mata kuliah Etika Menuntut Ilmu 101 di semester 1, dimana tujuaanya agar mahasiswa berada di jalur yang benar dan dapat mengambil manfaat dari ilmu pengetahuan yang ditawarkan oleh IOU, maupun ketika mempelajari ilmu di tempat/ lembaga lain.

Syekh Bakr Abu Zayd lahir pada tahun 1944 dari suku Zayd, di tengah-tengah Najd, kota Shaqra, dan meninggal di Riyadh pada tahun 2008. Beliau menyelesaikan Pendidikan Menengah di Riyadh. Kemudian melanjutkan pendidikan tingi College of Shari'ah di Ibn Saud University serta menyelesaikan gelar Master dan PhD-nya disana di Higher Institute of Law.

Jumat, 04 September 2020

PENGANTAR ILMU TAJWID: Keutamaan Mempelajari dan Membaca Al-Qur'an*

Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam beserta sahabat, keluarga dan ummatnya hingga akhir zaman.

Mempelajari cara membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar merupakan salah satu ibadah terbaik, hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shalllalahu alaihi wa sallam, dari Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu:

خَيْرُكُمْ مَن تَعَلَّمَ القُرْآنَ وعَلَّمَهُ

“Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya” [HR. Al-Bukhori].

Predikat kemuliaan berdasarkan hadist tersebut dapat diraih dengan mempelajari Al-Quran secara sungguh-sungguh.

Sifat Seorang Yang Mempelajari Al-Qur’an

Seseorang yang memutuskan untuk meraih predikat kemulian dengan mempelajari Al-Qur’an, setidaknya harus memiliki empat sifat utama yang dijelaskan dalam uraian berikut.

Minggu, 09 Agustus 2020

Taubat itu bukan akhir perjalanan keburukan, namun awal dari perjuangan kebaikan



Oleh: Aminullah Yasin 

Ketika seseorang bertaubat maka dia harus siap menerima segala konsekuensinya. 

Di zaman Nabi ada seorang wanita bertaubat dari Zina, dia mengakui perbuatannya. Apakah dg pengakuan dan istighfarnya tsb, dia langsung mendapatkan "kesenangan"? Nyatanya dia harus menjalani proses hukuman rajam yg mengakhiri nyawanya.

Seorang yg mencuri-pun ketika bertaubat, dia harus menjalani proses hukuman potong tangan. Demikian pula pada dosa² lain.

Ketika kita memutuskan untuk bertaubat dari suatu dosa, maka siapkan hati kita... Karena setelah itu, seringkali "musibah" dan "kesulitan" menimpa kita. Kita akan diuji, apakah taubat kita jujur ataukah hanya manis dibibir saja. Selain itu, musibah dan kesulitan tsb bisa jadi sebagai penebus atas dosa² kita sebelumnya. Allah sayang kita, oleh sebab itu Allah beri kita ujian.

Nabi SAW pernah bersabda: 

إن الله إذا أحب عبدًا ابتلاه 

"Jika Allah mencintai seorang hamba, Dia akan memberinya cobaan/ ujian"

Dalam hadits lain, beliau bersabda:

Begini Seharusnya Kita Mendidik Generasi Penghafal Al-Qur'an


Oleh: Aminullah Yasin

Program Tahfizh Al-Qur'an beberapa tahun terakhir ini sedang menjadi hit. Banyak pesantren² baru bermunculan yg menyematkan kata² "Pesantren Tahfizhul Qur'an" atau "Rumah Tahfizh" dan yg semisalnya. 

Tak ketinggalan, pesantren² yg telah lama eksis pun, memunculkan program Tahfizhul Qur'an sebagai salah satu program unggulan dengan berbagai macam model dan sistematika yg disesuaikan dengan iklim & budaya organisasi yg berlaku di masing² pesantren tsb. 

Tentu saja hal ini merupakan satu kondisi yg harus kita syukuri bersama, karena kaum muslimin di Indonesia turut serta dalam bagian penjagaan Al-Qur'an yg Allah ta'ala sebutkan dalam surat Al-Hijr, ayat ke-9:

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ (9)

"Sesungguhnya Kami-lah yang telah menurunkan Adz-Dzikr (Al-Qur'an) dan Kami pula-lah yang akan melakukan penjagaan terhadapnya."

Berkata Syekh As-Sa'di tentang ayat tersebut, "Penjagaan tersebut adalah ketika Al-Qur'an diturunkan dan setelah Al-Qur'an diturunkan. Ketika diturunkan, yaitu Allah menjaga Al-Qur'an dari usaha pencurian para Syaithon. Adapun penjagaan setelah diturunkannya adalah dengan menjadikan Al-Qur'an ini berada didalam dada Nabi Muhammad lalu di dada² ummatnya (dengan menghafalnya)... Dan diantara bentuk penjagaan Allah terhadap Al-Qur'an adalah Allah akan menjaga ahli Al-Qur'an* dari para musuh² mereka..." (Tafsir As-Sa'di, secara ringkas) 
*Ahli Al-Qur'an adalah orang² yg menghafal, mempelajari, mengamalkan dan mengajarkannya -pent. 

Tiap tahun di negeri kita bermunculan banyak hafizh baru... Mungkin pertambahan jumlah hafizh tiap tahun di negeri kita bisa ratusan atau bahkan ribuan... Satu hal yang sangat menggembirakan. 

Disisi yang lain, ada fenomena yang harus menjadi perhatian bersama agar semangat menjadikan Al-Qur'an sebagai program unggulan pendidikan di Pesantren bisa benar² menjadi hal yg bermanfaat besar. Fenomena tersebut sudah diperingatkan jauh-jauh hari oleh Nabi Muhammad _shallallahu 'alaihi wa sallam_ :

أكثر منافقي أمتي قراؤها

"Mayoritas munafiq ummatku adalah para penghafal Al-Qur'an nya" HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Al-Albani. 

Fenomena "hafizh munafiq" harus menjadi perhatian bersama, karena ini bukan perkara ringan yg bisa diabaikan begitu saja. Untuk membaca fenomena ini, mari kita renungkan melalui beberapa fakta disekitar kita:

Senin, 13 April 2020

Sebab Kesesatan


Sebab penyimpangan manusia dari kemuliaan adalah karena tidak mengetahui nilai harga dirinya.

Allah menghargai manusia dengan nilai yg sangat tinggi. Allah berfirman:

هو الذي خلق لكم ما في الأرض جميعا

"Dia-lah yang menciptakan untuk kalian segala yg ada di bumi... " QS. Al-Baqoroh: 29.

Kemudian pada ayat selanjutnya Allah berfirman:

وإذ قال ربك للملائكة إني جاعل في الأرض خليفة

"Dan ingatlah tatkala Tuhanmu berkata kepada malaikat, "sesungguhnya Aku menjadikan pemimpin diatas bumi ini".... " QS. Al-Baqoroh: 30

Kamis, 06 Juni 2019

Manhaj Salaf adalah Manhaj yang Adil

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah :
ومن سلك طريق الاعتدال عظم من يستحق التعظيم وأحبه ووالاه وأعطى الحق حقه فيعظم الحق ويرحم الخلق ويعلم أن الرجل الواحد تكون له حسنان وسيئات فيحمد ويذم ويثاب ويعاقب ويحب من وجه ويبغض من وجه هذا هو مذهب أهل السنة والجماعة خلافا للخوارج والمعتزلة ومن وافقهم
"Barangsiapa meniti jalan keadilan, maka akan menjadi penting baginya siapapun orang yang berhak untuk diagungkan, dicintai dan diberikan loyalitas kepadanya.
Dia akan memberikan hak kepada setiap orang yg berhak memilikinya. Dia agungkan kebenaran dan dia sayangi para makhluk...
Dia juga menyadari bahwa setiap orang memiliki kebaikan dan keburukan. Setiap orang bisa dipuji dan dicela, diberi pahala dan dosa, setiap orang juga mungkin untuk dicintai dari satu sisi, namun dibenci dari sisi lainnya.
Inilah Madzhab Ahlus Sunnah Wal Jama'ah, berbeda dengan Khawarij, Mu'tazilah dan yg semisal mereka." -selesai-.

Selasa, 26 Maret 2019

Iman dan Ilmu : Sebuah Manifestasi Jiwa Menuju Tranformasi Pribadi Paripurna


Oleh : Aminullah Yasin

“Iman tanpa ilmu bagaikan lentera ditangan bayi, namun ilmu tanpa iman bagaikan lentera ditangan pencuri.” Buya HAMKA.

Banyak orang berbangga ketika telah sampai pada tingkatan ilmu tertentu. Ilmu yang diyakini sebagai pengetahuan yang telah terverifikasi oleh serangkaian uji ilmiah, nyatanya justru telah membawa banyak manusia berada pada titik terendahnya sebagai makhluk terpuji.

Tidak sulit kita mencari contoh nyata disekitar kita orang-orang yang “berilmu”, namun justru melakukan tindakan tak beradab dengan ilmunya. Ada banyak, sangat banyak. Namun hal ini masih tidak membuat sadar banyak orang betapa rapuhnya “ilmu” untuk menentukan kesuksesan seseorang. Orang-orang tetap mengejar prestasi “ilmiah”, berbangga dengannya, berkompetisi dengan kawan-kawannya, bahkan mereka siap “berkelahi” hanya untuk mendapatkan predikat “orang berilmu”, hasilnya? Kesombongan!

Rabu, 11 Desember 2013

Dirosah Hadits Tentang Larangan Bersekongkol Dalam Membunuh Seorang Muslim

Oleh : Syaikh Ali Hasan Al-Halaby hafizhohullah.


((من أعان على قتل مؤمنٍ بشطر كلمةٍ؛ لقيَ الله –عزَّ وجل- مكتوبٌ بين عينيه: آيِسٌ من رحمة الله))
“Barang siapa menolong seseorang untuk membunuh seorang muslim dengan setengah kata, dia akan menemui Allah dalam keadaan dahinya tertulis : “TERPUTUS DARI RAHMAT ALLAH” “
Hadits tersebut sebenarnya telah aku dengar sejak lama, aku sering dengar dari beberapa pemuda yang saling mengingatkan diantara mereka dengan hadits tersebut, dan mereka juga mempopulerkan hadits tersebut dikalangan masyarakat luas. Namun setiap aku ingin meneliti hadits tersebut, ada saja kesibukan yang menghampiriku, aku memohon kepada Allah agar menjadikan kesibukanku adalah dalam rangka keta’atan kepada-Nya.

Jumat, 06 Desember 2013

Tasawwul Untuk Kepentingan Umum

Meminta-minta atau tasawwul adalah satu hal yang dianjurkan oleh Islam untuk dijauhi. Dalam sebuah hadits yang terkenal dengan  hadits Qabishoh, Rasulullah saw memberikan sebuah pelajaran penting yang kemudian menjadi landasan hukum bagi permasalahan ini.

Perhatikan hadits berikut :

ﻳَﺎ ﻗَﺒِﻴﺼَﺔُ ﺇِﻥَّ ﺍﻟْﻤَﺴْﺄَﻟَﺔَ ﻻَ ﺗَﺤِﻞُّ ﺇِﻻَّ ﻷَﺣَﺪِ ﺛَﻼَﺛَﺔٍ ﺭَﺟُﻞٍ ﺗَﺤَﻤَّﻞَ ﺣَﻤَﺎﻟَﺔً ﻓَﺤَﻠَّﺖْ ﻟَﻪُ ﺍﻟْﻤَﺴْﺄَﻟَﺔُ ﺣَﺘَّﻰ ﻳُﺼِﻴﺒَﻬَﺎ ﺛُﻢَّ ﻳُﻤْﺴِﻚُ ﻭَﺭَﺟُﻞٍ ﺃَﺻَﺎﺑَﺘْﻪُ ﺟَﺎﺋِﺤَﺔٌ ﺍﺟْﺘَﺎﺣَﺖْ ﻣَﺎﻟَﻪُ ﻓَﺤَﻠَّﺖْ ﻟَﻪُ ﺍﻟْﻤَﺴْﺄَﻟَﺔُ ﺣَﺘَّﻰ ﻳُﺼِﻴﺐَ ﻗِﻮَﺍﻣًﺎ ﻣِﻦْ ﻋَﻴْﺶٍ – ﺃَﻭْ ﻗَﺎﻝَ ﺳِﺪَﺍﺩًﺍ ﻣِﻦْ ﻋَﻴْﺶٍ – ﻭَﺭَﺟُﻞٍ ﺃَﺻَﺎﺑَﺘْﻪُ ﻓَﺎﻗَﺔٌ ﺣَﺘَّﻰ ﻳَﻘُﻮﻡَ ﺛَﻼَﺛَﺔٌ ﻣِﻦْ ﺫَﻭِﻯ ﺍﻟْﺤِﺠَﺎ ﻣِﻦْ ﻗَﻮْﻣِﻪِ ﻟَﻘَﺪْ ﺃَﺻَﺎﺑَﺖْ ﻓُﻼَﻧًﺎ ﻓَﺎﻗَﺔٌ ﻓَﺤَﻠَّﺖْ ﻟَﻪُ ﺍﻟْﻤَﺴْﺄَﻟَﺔُ ﺣَﺘَّﻰ ﻳُﺼِﻴﺐَ ﻗِﻮَﺍﻣًﺎ ﻣِﻦْ ﻋَﻴْﺶٍ – ﺃَﻭْ ﻗَﺎﻝَ ﺳِﺪَﺍﺩًﺍ ﻣِﻦْ ﻋَﻴْﺶٍ – ﻓَﻤَﺎ ﺳِﻮَﺍﻫُﻦَّ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻤَﺴْﺄَﻟَﺔِ ﻳَﺎ ﻗَﺒِﻴﺼَﺔُ ﺳُﺤْﺘًﺎ ﻳَﺄْﻛُﻠُﻬَﺎ ﺻَﺎﺣِﺒُﻬَﺎ ﺳُﺤْﺘًﺎ
...

“ Wahai Qobishoh, sesungguhnya
meminta-minta itu tidak halal kecuali untuk tiga orang:

(1) seseorang yang menanggung hutang orang lain, ia boleh meminta-minta sampai ia melunasinya,

(2) seseorang yang ditimpa musibah yang menghabiskan hartanya, ia boleh meminta-minta sampai ia mendapatkan sandaran hidup, dan

(3) seseorang yang ditimpa kesengsaraan hidup sehingga ada tiga orang yang berakal dari kaumnya berkata, ‘Si fulan benar-benar telah tertimpa kesengsaraan’, maka boleh baginya meminta-minta sampai mendapatkan sandaran hidup.

Meminta-minta selain ketiga
hal itu, wahai Qobishoh adalah haram dan orang yang memakannya berarti memakan harta yang haram .” (HR. Muslim no. 1044)

Demikianlah... Nabi mendidik kita selaku ummatnya untuk tidak bermental pengemis... menyandarkan hidup pada belaskasih orang lain!!

Minggu, 01 Desember 2013

Meraih Makna Fithrah di Hari ‘Idul Fithri

بسم الله الرحمن الرحيم 

Segala puji bagi Allah swt, shalawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kehadirat Nabi Muhammad saw.

Umat Nabi Muhammad saw merupakan umat terbaik yang pernah dilahirkan kedunia ini, hal ini Allah sebutkan dalam firmanNya :

كُنْتُمْ خَيْرُ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِاللهِ

“Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan ditengah-tengah manusia, (lantaran) kalian senantiasa mengajak kepada kebajikan, mencegah dari kemungkaran dan beriman kepada Allah” (Q.S. Ali Imron : 110)

Meski rata-rata usia umat ini sangat pendek dibanding dengan usia umat-umat terdahulu[1], namun Allah swt memberikan ganti yang sangat berharga dari sekedar usia panjang, yaitu bulan Ramadhan.


DAKWAH SALAFI bukan DAKWAH LABELISASI

Alhamdulillah, sholawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam, beserta keluarga, sahabat serta orang-orang yang setia mengikuti sunnahnya hingga hari akhir. Amiin.

Geliat dakwah ahlus sunnah wal jama’ah atau terkadang dikenal dengan dakwah salafiyah semakin hari semakin menunjukkan grafik peningkatan. Dakwah kebenaran ini tidak hanya ‘menjangkiti’ kota-kota besar, namun desa-desa kecil dan terpencilpun mulai ‘dimasuki’nya.


Selasa, 24 Januari 2012

SEJARAH ILMU FIKIH (Bagian Kedua) : Fikih Pada Zaman Tabi’in Dan Setelahnya

Alhamdulillah, segala puji milik Allah ta’ala, Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kehadirat Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam, beserta sahabat, keluarga, dan umatnya hingga akhir zaman. Amiin.

Pada pembahasan sebelumnya, telah kita ketahui bersama bahwa setelah Nabi Muhamamad meninggal, mayoritas sahabat meninggalkan kota madinah menuju penjuru dunia untuk berdakwah dan menebarkan islam, dan hal ini juga merupakan awal tersebarnya perbedaan pendapat antar mereka dengan sebab-sebab yang telah kita bahas (Baca : PERKEMBANGAN ILMU FIKIH (Bagian Pertama) : Fikih Pada Zaman Nabi dan Para Sahabat ).

Selama berada di kota-kota tersebut, para sahabat dengan aktif mengajarkan ilmu yang mereka dapat dari Rasulullah kepada orang-orang. Tentu saja mereka mengajarkan berdasarkan dengan wahyu (Al-Qur’an dan Al-Hadits) yang mereka hafalkan dan pahami, serta hasil ijtihad mereka.


SEJARAH ILMU FIKIH (Bagian Pertama) : Fikih Pada Zaman Nabi dan Para Sahabat

Segala puji bagi Allah ta’ala. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kehadirat Nabi Muhammad shalallahu alaihi wa sallam, beserta sahabat, keluarga, dan umatnya hingga akhir zaman. Amiin.

Pada saat ini, kita mengenal satu disiplin ilmu dalam Islam yang paling dikenal oleh kaum muslimin, yaitu Ilmu Fikih. Disiplin ilmu ini membahas secara detail hukum praktis dalam menjalani kehidupan, baik yang berupa ubudiyah ataupun mu’amalah.

Apabila kita melongok sejarah, pada zaman Nabi Muhammad ilmu ini belum dikenal sebagai mana sekarang. Para sahabat yang hidup bersama beliau mengambil pelajaran (ilmu) dari beliau secara langsung tanpa mengklasifikasikan ini wajib atau sunnah (mustahab), makruh atau haram, syarat atau rukun, dsb.