Blogger templates

Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 22 Oktober 2024

Kurikulum Merdeka bermasalah (?)


Belakangan ini banyak narasi di media sosial yang mengkritisi kurikulum merdeka, bahkan sebagian narasi sampai menyebutkan bahwa proyek kurikulum merdeka merupakan proyek pembodohan generasi muda di Indonesia. Terlepas dari adanya plus – minus dalam kurikulum merdeka, mari kita coba melihat dengan perspektif yang lebih luas dari sekedar melihat sebuah “kurikulum” saja.

[1] Perkembangan teknologi dan asimilasi budaya

Perkembangan teknologi yang sangat pesat belakangan ini memberikan impact yang sangat besar terhadap kepribadian generasi muda. Bahkan -mungkin- inilah penyebab utama “pembodohan” yang terjadi ditengah anak-anak usia sekolah.

Teknologi ditangan anak-anak itu laksana lentera ditangan bayi, tidak menerangi justru membakar dan membahayakan. Kepribadian banyak anak (sering disebut sebagai gen Z dan gen Alpha), terbentuk akibat seringnya interaksi dengan game online dan media sosial. Gaya komunikasi yang berkembang pada Gen Z dan Gen Alpha sudah seperti komunikasi M2M (mesin ke mesin), tidak lagi mencerminkan komunikasi antarpribadi. Anak-anak bias dalam membedakan dengan siapa dia berinteraksi dan berkomunikasi, sehingga oleh banyak orang dewasa mereka dianggap tidak memiliki sopan santun dan tata krama.

Rabu, 16 September 2020

Menggagas Pendidikan Islam yang Murah


Oleh : Aminullah Yasin.

Education for All (EFA), merupakan sebuah gerakan yang diinisiasi oleh UNESCO sejak tahun 2000. Tujuan dari gerakan ini adalah pemerataan pendidikan bagi setiap warga dunia, tanpa memandang status mereka. Sudah 20 tahun gerakan tersebut bergulir, namun dilapangan kita masih mendapatkan gap yang cukup besar antar lapisan masyarakat, termasuk (atau terutama) masyarakat muslim di Indonesia.

Lahirnya sekolah-sekolah Islam baik yang berbasis asrama (pesantren) maupun non-asrama di negeri kita ini merupakan anugrah yang harus disyukuri bersama. Hampir tiap kota (terutama di Pulau Jawa), berdiri sekolah Islam berkualitas yang menawarkan berbagai macam keunggulan baik dari sisi proses pendidikannya, maupun output lulusannya.

Semakin tinggi kualitas sebuah sekolah, biasanya ditandai dengan semakin tinggi pula biaya pendidikan di sekolah tersebut, karena memang faktanya biaya operasional sekolah tidaklah murah. Fakta ini menyebabkan (mau tidak mau) terjadinya dikotomi antara si kaya dan si miskin, kesempatan mendapatkan pendidikan yang berkualitas masih bergantung pada faktor strata ekonomi orang tua atau keberuntungan.

Sejauh ini memang belum ada data penelitian berapa range biaya pendidikan di sekolah-sekolah Islam tersebut, namun isu tentang ini sudah cukup santer dimasyarakat. Bahkan ada yang berseloroh, "waktu membangun minta-minta sumbangan, setelah jadi pasang biaya mahal!".

Bagaimana solusinya?

Minggu, 09 Agustus 2020

Menentukan Target Pendidikan dan Rumus PDCA Cycle

 

Oleh: Aminullah Yasin

Ada orang berpikir, kita harus tentukan target yg tinggi. Karena dengan target tinggi hasilnya akan lebih baik daripada target rendah.

Contoh: sekolah menentukan target hafalan santri harus 10 juz dalam 3 tahun. Ternyata tercapainya hanya 3 - 5 juz, yg mencapai 10 juz hanya "segelintir" siswa saja. Ketika ditanya, "kok targetnya tinggi banget?" Dijawab, "dg target segini kita bisa mencapai 3-5 juz, kalau targetnya Kita kurangin bisa² realitanya lebih rendah lagi."

Cara berfikir spt ini masih cukup mudah kita temui dibeberapa sekolah Islam.

Bener gak sih?

Sebenarnya berpikir spt diatas itu menunjukkan kelemahan dalam manajemen. Karena dalam mengelola sebuah target pembelajaran, setidaknya rumusan Umum manajemen itu harus kita terapkan. 

Rumusan umum membuat visi sekolah

Oleh: Aminullah Yasin

Merumuskan visi sekolah/ pesantren itu gampang-gampang sulit. Gampang karena perumusan visi itu pencerminan dari harapan/ keinginan, ketika seseorang mendirikan pesantren/ sekolah pasti punya harapan dong untuk apa pesantren tsb berdiri... Nah, visi itu adalah membahasatuliskan harapan yg tersimpan di kepala ke dalam kertas. 

Tapi ada sulitnya juga. Karena ternyata memendam perasaan itu lebih mudah daripada mengungkapkannya... 😜😝

Skip... Skip... 

Sekarang, jika anda ingin membuat rumusan visi pesantren rumusan umumnya adalah SMART. Apa itu SMART?

Begini Seharusnya Kita Mendidik Generasi Penghafal Al-Qur'an


Oleh: Aminullah Yasin

Program Tahfizh Al-Qur'an beberapa tahun terakhir ini sedang menjadi hit. Banyak pesantren² baru bermunculan yg menyematkan kata² "Pesantren Tahfizhul Qur'an" atau "Rumah Tahfizh" dan yg semisalnya. 

Tak ketinggalan, pesantren² yg telah lama eksis pun, memunculkan program Tahfizhul Qur'an sebagai salah satu program unggulan dengan berbagai macam model dan sistematika yg disesuaikan dengan iklim & budaya organisasi yg berlaku di masing² pesantren tsb. 

Tentu saja hal ini merupakan satu kondisi yg harus kita syukuri bersama, karena kaum muslimin di Indonesia turut serta dalam bagian penjagaan Al-Qur'an yg Allah ta'ala sebutkan dalam surat Al-Hijr, ayat ke-9:

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ (9)

"Sesungguhnya Kami-lah yang telah menurunkan Adz-Dzikr (Al-Qur'an) dan Kami pula-lah yang akan melakukan penjagaan terhadapnya."

Berkata Syekh As-Sa'di tentang ayat tersebut, "Penjagaan tersebut adalah ketika Al-Qur'an diturunkan dan setelah Al-Qur'an diturunkan. Ketika diturunkan, yaitu Allah menjaga Al-Qur'an dari usaha pencurian para Syaithon. Adapun penjagaan setelah diturunkannya adalah dengan menjadikan Al-Qur'an ini berada didalam dada Nabi Muhammad lalu di dada² ummatnya (dengan menghafalnya)... Dan diantara bentuk penjagaan Allah terhadap Al-Qur'an adalah Allah akan menjaga ahli Al-Qur'an* dari para musuh² mereka..." (Tafsir As-Sa'di, secara ringkas) 
*Ahli Al-Qur'an adalah orang² yg menghafal, mempelajari, mengamalkan dan mengajarkannya -pent. 

Tiap tahun di negeri kita bermunculan banyak hafizh baru... Mungkin pertambahan jumlah hafizh tiap tahun di negeri kita bisa ratusan atau bahkan ribuan... Satu hal yang sangat menggembirakan. 

Disisi yang lain, ada fenomena yang harus menjadi perhatian bersama agar semangat menjadikan Al-Qur'an sebagai program unggulan pendidikan di Pesantren bisa benar² menjadi hal yg bermanfaat besar. Fenomena tersebut sudah diperingatkan jauh-jauh hari oleh Nabi Muhammad _shallallahu 'alaihi wa sallam_ :

أكثر منافقي أمتي قراؤها

"Mayoritas munafiq ummatku adalah para penghafal Al-Qur'an nya" HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Al-Albani. 

Fenomena "hafizh munafiq" harus menjadi perhatian bersama, karena ini bukan perkara ringan yg bisa diabaikan begitu saja. Untuk membaca fenomena ini, mari kita renungkan melalui beberapa fakta disekitar kita:

Selasa, 16 Juni 2020

6 Alasan Kenapa Pesantren "Harus" Masuk Tatap Muka Ditengah Pandemi Covid-19 (sebuah sudut pandang)

By. Aminullah Yasin. 

Keputusan bersama antara Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementrian Agama, Kementrian Dalam Negeri, BNPB dan Komisi X DPR RI pada senin yang lalu (15/6/2020) terkait pembelajaran tahun pelajaran 2020/2021 tidak menyurutkan niatan dan semangat banyak pesantren untuk memulai kegiatan tatap muka pada awal juli nanti -bahkan sebagian pesantren ada yg sudah memutuskan masuk dibulan juni ini-. 

Jika kita perhatikan keputusan bersama 3 kementrian, BNPB dan Komisi X DPR RI, maka titik beratnya adalah pada keselamatan jiwa peserta didik. Sekolah dianggap sebagai tempat kerumunan masa, selain itu interaksi antara peserta didik dengan peserta didik, peserta didik dengan guru, dan guru dengan guru tidak seperti interaksi antara pedagang dengan pembeli. Interaksi antar warga sekolah lebih bersifat interpersonal, ada persahabatan, kasih sayang, dukungan, kejujuran, kepercayaan, dst. Maka resiko penyebarannya cukup tinggi. 

Kamis, 09 Mei 2019

“Sekolah is life style”


(renungan untuk para pengelola sekolah)

Oleh : Aminullah Yasin (guru dan pengelola sekolah)

Keberadaan sekolah dari masa ke masa terus mengalami perubahan. Dahulu sekolah dimunculkan sebagai wadah pendidikan bagi anak-anak untuk mempersiapkan mereka menghadapi kehidupan di tengah masyarakat saat mereka telah dewasa, kemudian sekolah secara perlahan-lahan memberikan dampak pada peserta didiknya sebagai orang terpandang, semakin tinggi jenjang sekolah yang dimasuki seorang anak, semakin tinggi pula strata sosialnya ditengah masyarakat. Ini fakta. Disebagian tempat, orang dengan status “SD” dipandang rendah oleh orang dengan status “S1”. Demikian pula sebaliknya, masih tersisa orang-orang “S1” atau bahkan diatasnya merasa jumawa dengan gelar yang dimilikinya, walaupun kondisi ekonominya pas-pasan.

Namun sekarang, kondisi agak sedikit berbeda.

Minggu, 17 Maret 2019

Penghapusan UN, Menuju Desentralisasi Pendidikan di Indonesia

Banyak hal menarik dalam debat cawapres semalam, Ahad (17/3/2019), diantaranya adalah janji kampanye yang dilontarkan oleh cawapres no. urut 02, Sandiaga S. Uno, tentang Pendidikan. Sandi menyatakan, bahwa jika pasangan 02 menang, maka Ujian Nasional akan dihapus.

Sebagai salah satu praktisi di dunia pendidikan, penulis sangat setuju dengan hal tersebut. Karena nyatanya memang sistem pendidikan di Indonesia masih perlu banyak perbaikan. Mulai dari kurikulum, konten, teknis pelaksanaan, pengawasan, hingga sistem evaluasi.

Menjadikan UN sebagai isu utama, menurut penulis adalah sebuah langkah yang sangat strategis, sekaligus sangat berani. Karena dalam rangkaian pendidikan, UN adalah urutan terakhir dari proses pendidikan. Sehingga menghapus UN, artinya mengubah seluruh atau sebagian besar rangkaian proses pendidikan yang telah ada!