Blogger templates

Senin, 26 Juli 2021

Penggerak perekonomian itu bernama : Hutang

Oleh : Aminullah Yasin

(Mahasiswa Pascasarjana Ekonomi Syariah Institut Tazkia, Bogor) 


Jika kita bicara tentang hutang, mungkin yang terpikir dalam benak sebagian orang adalah menghindarinya (baik berhutang maupun memberi hutang). Berpikir bahwa keselamatan diri terletak dengan menghindari hutang memang tidak salah, namun  dalam skala makro hutang justru menjadi salah satu sumber kebaikan. Kebaikan yang sangat banyak. 

Tak salah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam memberikan motivasi tentang hutang. Mari kita renungkan beberapa hadits berikut:

ما من مسلم يقرض مسلما قرضا مرتين إلا كان كصدقتها مرة

"Tidaklah seorang muslim memberi hutang muslim lainnya dua kali, kecuali dia mendapatkan pahala seperti bersedekah satu kali" HR. Ibnu Majah, dihasankan oleh Al-Albani. 

إن السلف يجري مجرى شطر الصدقة. 

"Hutang itu memiliki pahala setengah sedekah" HR. Ahmad, dishahihkan oleh Al-Albani. 

Dua hadits diatas secara jelas menyebutkan bahwa pahala menghutangi adalah setengah pahala sedekah. 

Dalam hadits yg lain disebutkan :

Rabu, 19 Mei 2021

Organisasi di Era Digital


Oleh: Aminullah Yasin

Era digital adalah era keterbukaan, sehingga sangat sulit 'merahasiakan' sebuah amal jama'i. Ketika sebuah kegiatan dilakukan oleh lebih dari 2 orang, jangan pernah beranggapan hanya para peserta yg hadir disanalah yg mengetahui kegiatan tsb. Karena bahkan yg berada diujung dunia sana, sangat mungkin juga mengetahui dengan detail. 

Ada baiknya dalam organisasi diulang-ulang pesan : "pentingnya menjaga kerahasiaan organisasi serta tidak latah menyebarkan informasi internal".

Bayangkan, jika pengurus pesantren sedang memberi sanki bagi santri yg melanggar, lalu oleh oknum guru proses sanksi tsb difoto dan dishare ke medsos. Bisa jadi bukan kebaikan yg didapat, malah pesantren tsb yg dibuli oleh netizen dan sangat mungkin berbuntut panjang dg pihak berwajib! 

Rabu, 17 Maret 2021

Keutamaan Kurma Ajwa Madinah


 Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

 ((مَنْ تَصَبَّحَ بِسَبْعِ تَمَرَاتٍ عَجْوَةً، لَمْ يَضُرَّهُ ذَلِكَ الْيَوْمَ سُمٌّ، وَلَا سِحْرٌ))

"Barang siapa memasuki waktu pagi dengan menyantap tujuh butir kurma ajwa, maka pada hari itu dia tidak akan terkena racun dan sihir." HR. Muslim. 

Berkata Imam An-Nawawi rahimahullah ta'ala: 

"Hadits tersebut menjelaskan keutamaan kurma ajwa madinah serta keutamaan mengawali pagi hari dengan menyantap tujuh butir kurma ajwa. Penyebutan kurma ajwa merupakan bentuk pengkhususan kurma ini dibanding kurma jenis lainnya. Demikian pula penyebutan jumlah tujuh butir, merupakan bentuk pengkhususan angka tersebut dalam perkara ini yg kita tidak ketahui hikmah dibalik angka tersebut. Cukup bagi kita mengimani, meyakini keutamaannya dan meyakini bahwa penyebutan jumlah tsb pasti mengandung hikmah kebaikan, sebagaimana kita mengimani jumlah rokaat shalat dan nishab zakat" [Syarah Shohih Muslim].

Kamis, 22 Oktober 2020

Positivisme dan Ekonomi Islam

 

Positivisme dan Ekonomi Islam[1]

Oleh : Aminullah Yasin[2]

 

Pada abad 19, Auguste Comte mengenalkan satu aliran filfasat baru yang disebut Positivism, yang sebenarnya merupakan pengembangan dan bentuk ekstrim dari teori empirisme (O.Hasbiansyah, 2000). Aliran positivisme menekankan bahwa suatu teori/ pandangan dianggap benar jika dapat dibuktikan dengan fakta-fakta melalui observasi (verifikasi), sehingga teori dan ilmu pengetahuan tak lain adalah untuk mengungkapkan kebenaran tentang realitas (Sugiyono, 2001).

Disebut positivisme karena aliran ini menganggap bahwa hal yang positif merupakan apa yang berdasarkan fakta obyektif (Fata & Noorhayati, 2016), positivisme menekankan aspek faktual dalam pengetahuan ilmiah dan menafikan filsafat atau pengetahuan yang tidak bisa diverifikasi secara faktual.

Aliran positivisme dalam penelitian berkembang menjadi penelitian dengan paradigma kuantitatif. Paradigma positivisme jika diimplementasikan dalam penelitian ilmiah adalah untuk menguji kebenaran atau menerapkan sesuatu teori. Metode yang digunakan adalah empiris-analitis; menggunakan logika deduksi, teknik-teknik penelitian survai, statistika (termasuk yang non parametrik atau yang diskriptif), generaslisasi, dan berbagai teknis studi kuantitatif serta didesain dengan model-model kalkulatif (Sjafruddin, 2017).

Aliran positivisme dengan metode kalkulatifnya yang mengobservasi sebuah fenomena dan mendeskripsikannya dengan H0 dan H1, dinilai oleh banyak ahli sosial tidak tepat jika masuk dalam rumpun ilmu-ilmu sosial, karena bagaimanapun dalam penelitian ilmu sosial memiliki banyak variabel yang saling terkait dan sering tidak terjangkau oleh penelitian positivisme.

Namun dalam perkembangan pemikiran di dunia barat, banyak ilmuwan yang ingin keluar dari dogma kebenaran berdasarkan religiusitas (agama), sehingga teori positivisme disambut positif dan tersebar secara massif kedalam perbagai cabang dan rumpun ilmu pengetahuan, termasuk rumpun ekonomi (Fata & Noorhayati, 2016).

Rabu, 16 September 2020

Menggagas Pendidikan Islam yang Murah


Oleh : Aminullah Yasin.

Education for All (EFA), merupakan sebuah gerakan yang diinisiasi oleh UNESCO sejak tahun 2000. Tujuan dari gerakan ini adalah pemerataan pendidikan bagi setiap warga dunia, tanpa memandang status mereka. Sudah 20 tahun gerakan tersebut bergulir, namun dilapangan kita masih mendapatkan gap yang cukup besar antar lapisan masyarakat, termasuk (atau terutama) masyarakat muslim di Indonesia.

Lahirnya sekolah-sekolah Islam baik yang berbasis asrama (pesantren) maupun non-asrama di negeri kita ini merupakan anugrah yang harus disyukuri bersama. Hampir tiap kota (terutama di Pulau Jawa), berdiri sekolah Islam berkualitas yang menawarkan berbagai macam keunggulan baik dari sisi proses pendidikannya, maupun output lulusannya.

Semakin tinggi kualitas sebuah sekolah, biasanya ditandai dengan semakin tinggi pula biaya pendidikan di sekolah tersebut, karena memang faktanya biaya operasional sekolah tidaklah murah. Fakta ini menyebabkan (mau tidak mau) terjadinya dikotomi antara si kaya dan si miskin, kesempatan mendapatkan pendidikan yang berkualitas masih bergantung pada faktor strata ekonomi orang tua atau keberuntungan.

Sejauh ini memang belum ada data penelitian berapa range biaya pendidikan di sekolah-sekolah Islam tersebut, namun isu tentang ini sudah cukup santer dimasyarakat. Bahkan ada yang berseloroh, "waktu membangun minta-minta sumbangan, setelah jadi pasang biaya mahal!".

Bagaimana solusinya?