Selasa, 26 Maret 2019
Iman dan Ilmu : Sebuah Manifestasi Jiwa Menuju Tranformasi Pribadi Paripurna
Minggu, 17 Maret 2019
Penghapusan UN, Menuju Desentralisasi Pendidikan di Indonesia
Rabu, 12 September 2018
Dakwah Itu Mengajak Bukan Mengejek
Khalifah Yang Adil Vs Raja Yang Sombong
Ada seorang Raja Nasrani masuk Islam kemudian kembali murtad setelah Umar bin Khottob menegakkan keadilan atas raja tersebut yg telah berbuat dholim kepada rakyat jelata.
Raja itu bernama Jabalah bin Aiham Al-Ghassani.
Ibnu Katsir menyebutkan dalam kitabnya "Al-Bidayah wan Nihayah" : ketika Umar bin Khottob mendengar Jabalah masuk Islam, beliau sangat bergembira dan mengundangnya ke Madinah.
Datanglah Jabalah bersama para pengikutnya ke Madinah dan disambut dengan hangat oleh Umar bin Khottob.
Singkat cerita, Jabalah kemudian menunaikan Ibadah Haji ke Makkah dan ketika thowaf, ada jama'ah Haji dari kalangan "kuli Pasar" tidak sengaja menginjak jubah milik Jabalah.
Jabalah-pun marah dan memukul wajah orang tsb hingga terluka. Lalu orang tersebut mengadukan kepada Umar.
Dipanggillah Jabalah oleh Umar, ketika ditanya tentang kejadian itu, Jabalah mengakuinya. Maka Umar memberikan putusan, "berikan wajahmu untuk ditegakkan qishosh".
Jabalah kaget dan mengatakan, "Aku seorang Raja, dan dia hanya kuli pasar, apakah keputusanmu ini sepadan wahai Umar?"
"Tentu saja, dalam Islam kedudukanmu dan kedudukannya sama, yg membedakan adalah ketakwaan" jawab Umar.
Jabalah kemudian berkata, "Aku kira jika Aku masuk Islam maka Aku akan jauh lebih terhormat dibanding ketika Aku masih dalam kehidupan Jahiliyah... Jika seperti ini yg Aku dapatkan, lebih baik Aku kembali ke agamaku yg dulu saja (Nasrani)".
Umar yg kaget dengan pernyataan Jabalah, kembali menanggapi dg tegas, "Jika kamu murtad, maka Aku akan penggal lehermu".
Jabalah kembali terkaget lalu berkata, "berikan Aku waktu untuk berfikir Malam ini".
Dan pada Malam itu, Jabalah bersama beberapa pengikut setianya melarikan diri ke Kerajaan Romawi dan menyatakan kemurtadannya dihadapan Kaisar Romawi.
=====
Diantara faedah kisah tsb adalah :
1. Masuk Islamnya seseorang harus kita apresiasi dan dukung dengan sepenuh hati.
2. Hidayah itu mutlak ditangan Allah. Islam dan murtadnya seseorang bisa saja memiliki latar belakang dan kisah, tapi tetap saja Kita harus meyakini bahwa Hidayah itu mutlak ditangan Allah.
3. Apakah Umar menjadi sebab murtadnya Jabalah? Tentu saja tidak, Umar hanya melakukan tugasnya untuk menegakkan keadilan diantara rakyatnya.
Wallahu a'lam.
Siapakah Kaum Muallaf itu?
Syekh Abdullah bin Sulaiman Al-Mani' hafizhahullah, anggota Haiah Kibar Ulama Arab Saudi dalam jurnalnya yg diterbitkan oleh Majalah Buhuts Ilmiyyah Arab Saudi mengutip dari dua alim, tentang siapakah kaum Muallaf itu.
PERTAMA :
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan, "Muallaf terbagi menjadi dua : Muslim dan Kafir. Muallaf kafir adalah yg kita harapkan keislamannya jika Kita berikan kepadanya sebuah pemberian, atau dengan pemberian tsb Kita berharap agar terminimalisir keburukan darinya. Demikian pula seorang Muslim yg memiliki pengaruh (banyak pengikut), Kita harapkan dengan memberikan sesuatu kepadanya agar Islamnya menjadi semakin baik,..."
KEDUA :
Dr. Yusuf Al-Qordhowi berkata,
"Muallaf terbagi menjadi beberapa macam, Ada yg muslim Ada yg kafir:
1. Orang kafir yg dengan Kita berikan sesuatu kepadanya, Kita berharap dia masuk Islam atau keluarga orang tsb mau masuk Islam.
2. Orang yg sering berbuat kerusakan/keonaran, dan dengan pemberian tsb kita berharap dia berhenti menebarkan kerusakannya.
3. Orang yg baru masuk Islam, Kita beri sebagai bentuk perhatian dan agar dia semakin kuat dalam keislamaannya.
4. Orang Muslim yg punya pengaruh kuat dikalangan orang kafir, Kita beri Akan koleganya dari kalangan kafir masuk Islam.
5. Pemimpin/tokoh masyarakat muslim yg lemah Iman. Kita beri agar keimanannya lebih kuat.
6. Kaum Muslimin yg berada diperbatasan dg negeri kafir.
7. Kaum Muslimin yg memiliki pengaruh untuk menarik zakat dari orang2 kaya yg enggan menunaikannya.
(Diterjemahkan secara ringkas dari : http://www.alifta.net/Fatawa/fatawaDetails.aspx?languagename=ar&View=Page&PageID=4065&PageNo=1&BookID=2)
Kesimpulannya :
Hidayah itu memang mutlak ditangan Allah. Tapi dalam syariat Kita, Kita dianjurkan untuk berupaya menjadi "agen" dalam sampainya hidayah Allah tersebut kepada orang2.
Dan jangan sampai Kita menjadi "agen" syaithon yg menjerumuskan orang2 ke jurang kenistaan.

